THE ACCIDENT OF ME
PROLOG
-Author’s POV-
Seorang namja tengah terpuruk di depan sebuah rumah yang benar-benar kosong. Depresi dan tengah memukul-mukul mobilnya sendiri ketika tahu yeojachingunya benar-benar menghilang dan entah kapan atau bahkan takkan kembali.
Dengan terpaksa, dia melajukan mobilnya tanpa tujuan saking putus asa dan tak relanya kehilangan yeoja yang mampu melengkapi hari-harinya itu.
BRAKKK!!!! Kecelakaan beruntun terjadi. Hanya satu hal kecil yang sulit dipercaya yang menyebabkan kecelakaan besar itu. Seekor kucing melintas yang membuat mobil paling depan mengerem mendadak dan membuat mobil dibelakangnya dan seterusnya kehilangan kendali dan menabrak sana sini. Mobil paling depan, Ferrari keluaran terbaru milik Lee Sungmin mengalami keadaan terparah. Sungmin terjungkal ke stirnya dan membuatnya tak sadarkan diri.
***
Sebulan kemudian…
-Sungmin’s POV-
Sekolah… Ah… terlalu banyak kesanku tentang tempat itu. Bahkan sangat susah menceritakannya padamu. Semuanya special. Setiap tempat di sudut sekolah, pasti memiliki kenangan yang tak pernah hilang dari pikiranku. Ne, kira-kira hanya seperti itulah aku menggambarkannya. Tapi… setelah sebuah “kecelakaan besar” yang terjadi padaku, ada beberapa hal yang sama sekali tidak bisa kuingat.
Saat ini, ketika aku menyusuri lagi bangunan ini, aku seperti membongkar semua masa laluku. Sudut demi sudut kutatap lekat, berharap aku bisa kembali lagi ke masa-masa itu.
Tiba-tiba langkahku terhenti di sebuah tempat. Aku sama sekali tak mengerti apa yang membuatku berhenti disini dan sulit mengangkat kakiku untuk berkeliling ke bagian sekolah lainnya. Otak dan jantungku tiba-tiba seakan ditusuk-tusuk parang, memaksa kenangan yang tak bisa kuingat. Perlahan mendung merapat dan semakin membuat perasaanku kacau. Apa yang terjadi?
Aku mendongak ke atas, tapi sebuah cahaya tiba-tiba menyambarku. Lalu semua keadaan berubah gelap. Tak ada yang bisa kulakukan sama sekali. Apakah aku mati? Apa aku sudah sama sekali tidak bisa kembali ke raga dan kehidupanku seperti biasanya? Jawab aku, Tuhan, jawab aku! Apa yang Kau lakukan padaku?
***
Mataku terbuka kembali sewaktu aku menyadari semuanya telah kembali normal. Aku bangkit dari tempat tidurku di kamar pribadiku, tapi kemudian aku sadar sesuatu. Ada seseorang yang tidur disebelahku. Wajahnya, posturnya, dan gerak tubuhnya sewaktu tidur… aku hafal sekali siapa yang memilikinya. Dia……
Aku mengucek mataku perlahan, berharap apa yang kulihat tidak benar. Tapi tetap sama. Tidak ada yang berubah. Dia… dia… DIA ADALAH AKU!!!! LEE SUNGMIN! Lalu… siapa aku sekarang?
Aku menatap kaca. Tidak ada bayanganku sama sekali disana. Jadi… aku… aku benar-benar sudah mati? Jadi itu benar?
Aku terkulai lemas disamping ranjang, masih tak bisa mempercayai apa yang sesungguhnya terjadi padaku. Aku… sudah… mati… itulah kata-kata yang harus kuhadapi sekarang.
***
Besoknya, walaupun masih shock dengan keadaanku, tapi perlahan aku sudah mulai bisa menerima diriku yang sekarang hanya berwujud arwah. Beberapa menit setelah aku bangun, diriku yang ‘masih hidup’ itu juga bangun. Dia bersiap-siap dan memakai seragam SMA ku dulu. Mau kemana dia? Apa dia akan ke sekolah? Jika iya, barangkali dia bisa membantuku mengingat kenangan yang memaksa untuk kuingat itu.
Tanpa menunggu panjang lebar, aku langsung mengikutinya, melihat apa yang dia lakukan tanpa perlu dia mengetahui keberadaanku. Tanpa menunggu lama, dia lalu segera berangkat ke sekolah dengan mobil mewah yang biasa kugunakan.
“Aaahh… kau tampan sekali, Lee Sungmin…” katanya sambil berkaca di layar handphonenya. Aku sedikit tergelak mendengarnya. Yaa, dia benar-benar aku!
Sesampainya di sekolah, dia langsung masuk ke kelasku yang dulu dan menghambur dengan semua chingu-ku disana.
Bel istirahat berbunyi, aku mengikutinya keluar kelas. Tiba-tiba aku melihat seorang yeoja. Menangis sendirian di belakang sekolah. Aku meninggalkan ‘wujud’ku tadi dan berbalik arah menghampiri yeoja itu. Tubuhnya benar-benar ideal dengan kaki jenjangnya dan wajahnya yang sepertinya cantik kalau saja dia mau berhenti menangis. Aku duduk di sebelahnya.
“Ya! berhentilah menangis… Apa yang membuatmu seperti ini?” tanyaku. Sejenak aku ingat kalau dia tidak bisa melihatku. Dan… aku pun hanya diam sambil terus melihatnya menangis.
Dari jauh, aku melihat seorang namja, Hm… sepertinya dia berniat kesini, tapi kenapa dengan ekspresi malu-malu? Apa yeoja ini yeojachingunya? Pertanyaanku langsung terjawab ketika namja itu menghampiri kursi ini. Aku segera berdiri.
“Ja..Janice?” panggil namja itu
“Kim Jong Woon sunbae?”
“I.. ige mwoya? Apa yang terjadi sampai kau menangis begini?”
“Terlalu sulit…” yeoja itu lalu menangis sekeras-kerasnya di pundak namja yang bernama Kim Jong Woon itu. Ya!!! Kim Jong Woon… Yesung! Seingatku aku pernah mengenalnya! Ne! Dia satu geng denganku dulu! Sayang aku tidak terlalu dekat dengan anggota geng itu, karena sibuk dengan karier solo-ku.
DEG! Jantungku mulai berdetak tidak stabil melihat Yesung dan yeoja bernama Janice itu terlalu dekat. Ya! Bukankah aku hanya arwah? Kenapa aku bisa merasakan jantungku berdetak aneh? Jasadku yang masih berwujud LEE SUNGMIN hidup pun sedang tidak disini. Ataukah aku ada kaitannya dengan yeoja itu, juga Yesung?
Sejenak kemudian, perlahan, telapak tangan Yesung mendarat di rambut Janice dan membelainya lembut. Dan ajaib! Tangisan yeoja itu segera berhenti. Aku yang melihatnya semakin tak terkendali.
“Gamsahamnida, sunbae”
“Panggil saja oppa” jawab Yesung sambil mengacak rambutnya
“Gamsahamnida, op..paa…” katanya canggung
“Cheonmaneyo :) Lain kali kalau kau ada masalah, berbagilah padaku”
“Ara,oppa”
Janice segera beranjak dari kursi itu,lalu kembali ke kelasnya. Aku mengikutinya. Tapi, semakin aku dekat dengannya, ada sesuatu yang lain. Sepertinya ada sesuatu tentang aku dan Janice yang sulit kuingat.
***
Sesuatu tentang Janice masih kupikirkan sampai aku kembali ke rumah bersama “LEE SUNGMIN hidup” (lebih baik aku menyebutnya begitu). Apa yang harus kuingat? Apa? Janice… Janice… Ah! Kenapa aku hanya bisa mengingat namanya???
Esoknya, aku kembali mengikuti “jasad hidupku” ke sekolah. Aku tercengang melihat yang ada di depanku, sampai-sampai aku kembali meninggalkan “LEE SUNGMIN hidup” menuju ke kelasnya sendiri. 6 orang yeoja ‘perfectionist’ berjalan tepat dihadapanku. Aku hanya mengenal salah satunya yang sepertinya seorang ‘leader’ dari mereka ber-5. Ne, Janice yang membuatku merasa aneh sejak kemarin. Sebenarnya siapa mereka?
Akhirnya aku mengerti setelah beberapa siswa membicarakan mereka di sebelahku saat itu juga. Janice, ah, sepertinya tak perlu kusebutkan lagi. Dia yang paling ‘perfect’ dan paling tinggi diantara yang lainnya. Tampak serasi dengan ‘dress’ kotak-kotak biru putih dengan pita biru ditengah bagian ‘neck’nya. SMA-ku memang memakai semacam jas almamater saja sebagai seragam, lalu rok hitam pendek untuk siswinya dan celana panjang hitam untuk siswa. Lainnya, itu terserah masing-masing murid. Kembali lagi ke Janice. Tatanan rambutnya juga sangat cocok walaupun hanya diikat tinggi ke atas dan poni rata diatas alisnya. Sebelah kirinya ada Young-Ra (murid disebelahku yang memanggilnya begitu). Yeoja yang kurasa dia memiliki ‘Intelligent’ paling tinggi. Terlihat dari buku yang digenggamnya. Memiliki poni seperti Janice, hanya saja rambutnya dibiarkan tergerai sebahu dan dipermanis dengan jepit biru. Sebelah kiri Young-Ra, ada Haemin-ah. Kurasa dia sangat mirip dengan Young-Ra. Dandanan saja yang membedakannya. Kemudian disamping kanan Janice, ada Jieul. Rambutnya sebahu tapi agak panjang dan sedikit bergelombang dengan poni rata. Lalu ada Min-chan yang paling narsis. Berambut se-leher dan poni rata dengan bando putih. Yang terakhir adalah Hyemi, yang menurut murid disebelahku selalu juara di bidang sastra. Dibanding 5 temannya, Hyemi yang paling berbeda. Poninya miring dengan rambut diikat rendah dan ditambah jepit. Dandanan kombinasi dari yang lain yang unik!
Sepertinya, baru kemarin aku melihat Janice menangis, dan sekarang, dengan cepat dia berubah. Apa selalu begitu? Apa dia memang angkuh seperti kelihatannya?
Aku segera mengikuti mereka menuju kelas. Melihat bagaimana kelakuan mereka mengingat anak seumuran mereka yang memiliki ‘geng’ biasanya ‘brandal’. Oh my… lagi-lagi aku salah besar! Janice dan keempat temannya (karena 2 orang lainnya beda kelas) sama sekali berbeda. Prasangkaku tentang Janice yang hanya ‘perfection’ luarnya saja ternyata salah. Dia ‘PERFECTION’ LUAR DALAM!!
DEG! Detakan ini kembali menghantuiku. Perasaanku langsung berubah. Ada rasa salah tingkah saat aku melihat Janice, padahal tentunya dia tak bisa melihatku. Lagi-lagi ini mengingatkanku pada hal yang kulupakan dulu. Seberapa penting sebenarnya ‘yang terlupakan’ itu?
-Janice’s POV at Sungmin’s flashback-
Seperti biasa, aku mengikuti kelas hari ini dengan enjoy dan memahami apa yang diterangkan Kwon Seongsaenim. Dan seperti biasa juga jika beberapa teman sekelasku menanyakan pelajaran padaku jika mereka bingung. Tapi anehnya, saat aku mendekat ke bangku Haenim untuk membantunya, tiba-tiba angin dingin menyergapku, seolah ada sesuatu-yang-tidak-kutahu mengikutiku. Seketika itu juga aku merinding. Ada apa sebenarnya? Aku berkeliling mencari sesuatu itu, tapi tentu saja sia-sia! Aku sama sekali tidak memiliki kemampuan magis untuk melihat seperti itu.
Sebenarnya sudah sejak kemarin aku merasa seperti ini, tapi kukira kemarin hanya moodku saja yang jelek gara-gara orang yang kutaksir membentak dan memarahiku habis-habisan. Dan setelah Yesung-sunbae yang sekarang memintaku memanggilnya Yesung-oppa datang dan menenangkanku, aura itu menghilang.
Masih hanya perasaanku saja? Mungkin.
***
-Sungmin’s POV-
Sudah seminggu aku begini. Menguntit ‘jasad hidupku’ setiap hari dan sesekali menguntit Janice juga. 3 hari yang lalu, aku melihatnya menangis lagi. Aku segera memperhatikan sekitar, mencari tahu apa yang membuat Janis menangis. Aku hanya menemukan Yesung sedang ngobrol bersama seorang yeoja di seberang. Tadinya aku bingung karena ini sama sekali biasa. Tapi, ketika aku ingat kejadian Janice menangis dan bersandar di pundak Yesung, aku mengerti. Sepertinya Janice cemburu.
Semakin lama, aku semakin simpatik dengan Janice walaupun dia sama sekali tak pernah mengetahui keberadaanku. Saat itu, aku ingin sekali menenangkannya dan menyandarkannya di pundakku supaya dia lega, tapi, bahkan aku bersandar pada diriku sendiri itu hal yang mustahil! Apalagi untuk Janice yang masih hidup?
Setelahnya, tepat sehari yang lalu, Janice terlihat mulai dekat dengan Eunhyuk. Ne, aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Dia salah satu yang dekat denganku. Aku sedikit mendengar obrolan mereka.
“Oppa, sakitkah kau jika melihat ada namja lain yang mendekati yeojachingumu tepat di depan matamu sendiri?” tanyanya sambil menangis sesenggukan.
“Ya!!! Ada apa denganmu? *lagu kali!* Ada yang berbuat begitu padamu?”
“Ah, tapi dia bukan siapa-siapaku oppa. Hanya aku yang terlalu terobsesi memilikinya. ”
“Ya,ya,ya!!! Jangan menangis lagi!!!” Eunhyuk membelai rambut Janice sambil mencoba menenangkannya. Ah, kenapa tangan ini ingin memukul Eunhyuk saat itu juga?
“Gamsa,oppa…”
Aish!!! Emosiku semakin meluap ketika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu itu. Tapi untuk apa aku marah? Siapa Janice? Arggh!!
***
-Janice’s POV at Sungmin’s flashback-
Aku sedikit tenang saat Eunhyuk oppa menenangkanku dan membiarkanku menangis di hadapannya. Ah, aku memang cengeng. Na baboya!
Ini juga salahku. Kenapa aku tiba-tiba seperti ini? Aku terjebak dengan perasaan ‘mengikat’ dengan Yesung oppa sejak dia dekat denganku, dan itu yang membuatku sedikit ‘possesive’. Tapi biarlah. Aku akan mencoba menghilangkan pikiran dan perasaan itu agar aku bisa kembali menjadi ‘dongsaeng’ seorang Yesung oppa, meskipun itu butuh waktu. Untuk sementara ini, aku terpaksa menjauhinya supaya aku lebih tenang, karena aku masih labil.
Kemarin juga, Eunhyuk oppa menanyaiku apa yang bisa menghiburku supaya aku tidak terpuruk dan menangis lagi. Tiba-tiba aku teringat Lee Sungmin, siswa IPA kelas sebelah yang juga seorang soloist. Aku benar-benar mengidolakannya, sayang aku tak pernah bertemu dengannya secara langsung, padahal kami satu sekolah dan mempunyai kelas yang berdekatan. Eunhyuk oppa mengiyakan dan berjanji akan mempertemukan aku dan dia besok. Kebetulan dia teman dekat Eunhyuk oppa. Gamsahamnida, oppa!
Ah… aura itu…. Sampai kapan dia akan mengikutiku? Lagi-lagi dia selalu ada dimanapun aku berada. Tuhan… lindungi aku…
***
-Sungmin’s POV-
Hari ini tak ada yang bisa kulakukan, jadi kuputuskan untuk menguntit ‘jasad hidupku’. Tepat di depan kantin, ketika jam sekolah berakhir, aku terkejut Eunhyuk membawa Janice tepat dihadapan ‘LEE SUNGMIN hidup’. Sepertinya aku mulai bisa mengingat kembali masa laluku yang ‘hilang’ itu. Tapi masih suram. Seperti yang sudah kuduga, ini pasti berkaitan dengan Janice.
“Hyung, kutinggalkan dia bersamamu. (Dia penggemarmu)” bisiknya
“Ya,yaaa!!! Hyuk!!!” jasadku itu memanggilnya, tapi Eunhyuk sudah hilang ditelan bumi *?*
Beberapa detik kemudian, suasana canggung. Aku juga ikut canggung. Berulangkali aku menggaruk-garuk kepalaku yang samar.
“Eh…” kami bertiga langsung membuka mulut. Ne, itu termasuk aku, meski aku tahu mereka tak mendengarnya. Aku buru-buru membungkam mulut.
“Ne?” tanya Lee Sungmin hidup kemudian
“Gwenchanayo,op..” Janice terlihat membungkam mulutnya
“Tak apa. Kau boleh memanggilku oppa. Lee Sungmin imnida, kau? Hm… kalau aku benar, kau salah satu anggota geng yeoja yang paling tenar di sekolah itu,kan?”
Ya? Kenapa jasadku sudah mengenal Janice?
Janice tersenyum. “Ne,oppa. Aku leadernya”
“Jinja?”
Janice mengangguk. “Waeyo?”
“Gwenchana. Ketenaranmu dan teman-temanmu mengalahi kepopuleranku di sekolah ini” Sungmin hidup pura-pura cemberut. Kyaa!!! Pintar sekali kau bertingkah sok imut di depan yeoja??
“Aniya,oppa. Aku tetap mengidolakanmu”
MWO???? JINJA??? Apa aku mimpi?
DEG! Omo… perasaan itu lagi. Tapi kali ini rasanya… hm… bisakah kau merasakan senang berlebih ketika seseorang yang membuatmu mempunyai perasaan aneh tiba-tiba mengidolakanmu??
“Jinja?”
“Tentu”
“Gamsa, Janice.”
“Bukan apa-apa,oppa. Hm… bolehkah aku…. Ehm… minta tanda tangan dan berfoto denganmu?” Oh Tuhan… ini ekspresi Janice paling menakjubkan selama ini!
“Ah, apa kau tidak malu? Aku kan hanya temanmu dan hanya berbeda kelas saja….”
“Ani,oppa. Ini keputusanku. Boleh?”
Tak lama kemudian mereka berdua bernostalgia bersama. Benarkah itu aku? Aku dan Janice?
Sebuah cahaya yang cepat menyambarku seketika. Aku memejamkan mata. Tiba-tiba ingatanku pulih seperti semula. Aku ingat. Janice… dia idolaku yang kemudian menjadi yeojachinguku dan membuatku bermusuhan dengan Yesung… Janice yang diam-diam ternyata aku memperhatikannya walaupun aku jarang bertemu dengannya di sekolah… Janice yang terlebih dulu membuatku fallin in love sebelum dia menyatakan dia mengidolakanku… Janice yang beberapa bulan yang lalu menghilang sebelum aku merasa aku mati… Dan kenapa hati dan ragaku masih mengingat tempat pertama aku dan Janice bertemu lagsung, kantin sekolah…
Aku membuka mataku dan melihat sekeliling yang aneh. Aku sama sekali tak mengenal tempat ini. Putih dan kosong. Apa ini surga?
“Lee Sungmin…” sebuah suara mengagetkanku
“N-nee…?”
“Puaskah kau sekarang? Aku sudah memberikan apa yang kau minta untuk mengembalikan ingatanmu dan membuatmu pulih…”
“S-siapa K-kau?”
“Aku? Aku Tuhan yang kau mintai tolong disetiap doamu dan yang mentakdirkanmu bersama Janice…”
“Tuhan….?”
“Ya, Aku membawamu ke masa lalu untuk membuat ingatanmu pulih, dan membuatmu merasa kau sudah mati padahal tidak. Sekarang kembalilah ke tempatmu semula, dan kau akan mendapatkan sesuatu berharga yang kau inginkan”
Kilatan itu menyambarku lagi untuk yang ketiga kalinya. Bedanya, kali ini benar-benar dahsyat. Aku memejamkan mata dan berteriak.
“AAAAAAAAHHHHH!!!!!”
***
-Janice POV-
Aku memandangi wajah itu. Wajah yang kukagumi sejak beberapa bulan yang lalu, bahkan sebelum aku meninggalkannya. Sungmin yang selalu ceria, kini tiba-tiba terbaring lemah dan kaku seperti ini. Aku tahu, dia sudah tak mungkin hidup lagi, karena elektrokardiograf sudah berdenging keras sejak 15 menit yang lalu setelah dia dinyatakan kritis. Mianhae, Sungmin oppa, Jeongmal mianhae…. Maaf, aku meninggalkanmu tanpa kabar. Ini semua salahku, terlalu memikirkan cita-citaku setelah SMA sampai membiarkanmu hilang ingatan, membuatmu tersambar petir saat berkeliling di SMA kemarin sebelum kau meninggalkan Seoul untuk kuliah dan membuat penyakitmu kambuh saat itu juga….
Aku tak kuasa membendung air mataku. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku saja yang meninggalkan dunia ini selama-lamanya asal oppa bisa hidup bahagia?
“AAAAHHHH!!!!” Tiba-tiba jasad kaku itu terbangun sambil memejamkan matanya.
“S-sungmin Op-pa…” aku terkejut bukan main. Ada apa dengannya?
“J-janice?” tanyanya balik
“Kau sudah kembali? Na bogoshippoyo…” Dia mendekapku erat. Tangisku semakin menjadi-jadi.
“Na ddo bogoshippoyo, oppa…”
EPILOG
-Sungmin’s POV-
Sebulan setelah keluarku dari Rumah Sakit
“Oppa, sejak kapan ingatanmu kembali pulih?” tanyanya
“Hanya aku dan Tuhan yang tahu. Kau takkan percaya jika aku cerita”
“Aaahh… oppa….”
“Ish” aku mengacak-acak rambutnya
“Oppa, kapan kau akan kuliah? Bukankah rencanamu sudah tertunda sebulan?”
“Lusa aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik ya?” aku tersenyum
Tiba-tiba, suasana langit begitu gelap. Outdoor café yang kami tempati langsung terguyur hujan deras. Kejadian itu pun teringat kembali. Saat aku berkeliling di sekolah sebelum Tuhan mengembalikan ingatanku, kejadian masa lalu singkatku bersama Janice…
“AUH!!!” Jantungku terasa seperti saat itu. Sakit bukan main. Janice terlihat bingung dan gugup melihatku sementara meja kami sudah basah. Janice seperti ingin menangis dan mengkhawatirkanku walaupun dia sendiri basah kuyup.
Ditengah hujan deras dan petir itu, aku bahagia. Aku bahagia, setidaknya, jika penyakitku ini merenggut nyawaku sesakit apapun itu, aku bahagia aku sudah menemukan masa laluku yang hilang….
Perlahan, semua semakin samar. Sakitku perlahan mulai memudar. Akhirnya semua menjadi kelam. Saat aku terbangun, aku mengenal tempat ini. Putih, kosong… Kurasa, di tempat inilah aku memang ditakdirkan.
“OH GIRL,I CRY CRY
YOU’RE MY ALL
SAY GOODBYE BYE
OH MY LOVE, DON'T LIE LIE
YOU’RE MY HEART
SAY GOODBYE”
-THE END-
Huahhh!!!! Akhirnya selese juga bikin yang “ONESHOT”. Rada kabur ya,ffnya? Ya maklum, authornya juga lagi kabur.. XD
Mian kalo jelek bahkan dibawah rata-rata, soalnya pas debut *haish!* ini ff niatnya ngiseng aja ngisi liburan. Terus juga kalo bayanginnya gak sesuai gapapa deh, terserah, soalnya author sendiri bayanginnya Sungmin itu GD.. kekekek XD
Mian juga kalo isinya nangis-nangisan ama Sungmin kesamber petir banyak banget *Plakk!! -> ditamper fansnya sungmin* kan udah dibilang, author lagi stres *emang udah lama stres! :p*
Mian juga kalo isinya nangis-nangisan ama Sungmin kesamber petir banyak banget *Plakk!! -> ditamper fansnya sungmin* kan udah dibilang, author lagi stres *emang udah lama stres! :p*
The last, gomawo udah baca! Komen silahkan asal jangan mencerca :D

0 komentar:
Posting Komentar